Radikalisme Tak Pandang Ekonomi dan Gender

Batamnews.kepri.polri.go.id – Sulit mencerna fakta bahwa rentetan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dan serangan terhadap polisi belakangan ini dilakukan secara berkeluarga. Misalnya saja keluarga yang melakukan aksi bom bunuh diri gereja, Dita, yang merupakan seorang wiraswasta yang menjual produk herbal dan minyak kemiri. Dalam menjalankan usahanya, Dita dibantu istrinya-yang pernah bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Keluarga mereka tinggal di komplek Wisma Indah, Kelurahan Wonorejo, Surabaya, perumahan yang jauh dari kesan kumuh dan padat. Jika liburan tiba, keluarga ini biasa pelesir ke beberapa tempat, salah satunya wisata di Kabupaten Banyuwangi: mulai dari Pantai Grajakan, Pantai Muncah, hingga Pulau Merah. Di rumah, pasangan suami-istri ini menyediakan internet dan komputer untuk anak-anaknya yang hobi bermain game. Pendeknya, pengeboman atau aksi terorisme yang dilakukan keluarga besar Dita mematahkan asumsi umum yang selama ini berkembang: bahwa terorisme kerap disebabkan oleh faktor kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Berdasarkan keterangan polisi, Dita Oeprianto adalah pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Surabaya. Sejak November 2017, polisi menetapkan JAD sebagai kelompok teroris karena menjadi pendukung utama Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia. Menanggapi hal itu, Direktur Indonesia Muslim Crisis Centre (IMCC) Robi Sugara melihat, ada tiga hal yang menyebabkan masyarakat terjerumus ke dalam paham ekstremisme dan menjadi pelaku teror. Pertama, kata Robi, rendahnya kemampuan ekonomi dan akses terhadap pendidikan. Kedua, memahami ajaran agama secara tidak menyeluruh atau sepotong-sepotong. Dan ketiga, kata Robi, “ingin membuktikan dalil-dalil agama terutama yang berkaitan dengan akhir zaman dan negara khilafah akan berdiri sekali lagi”.  Narasi-narasi tersebut yang kerap melatarbelakangi seseorang terjerumus pada pemahaman agama yang ekstrem. Menurut Robbi, Dita dan keluarganya termasuk tipikal muslim yang pemahaman agamanya sangat parsial dan utopis dalam meyakini kebangkitan negara Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah.

Karena itu, kata Robi, kekuatan finansial yang mereka miliki justru digunakan untuk mendukung aksi-aksi terorisme atau membiayai diri mereka untuk terlibat langsung dalam perjuangan pendirian khilafah. Padahal, cara-cara mewujudkan negara khilafah, seperti yang dilakukan ISIS, selalu menggunakan kekerasan dan menambah penderitaan. Dia lupa bahwa pemahaman Islam itu bermacam-macam ragamnya dan mengalami proses sejarah yang panjang, proses politik, sosiologis dan sebagainya. Peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin, mengatakan proses radikalisasi agama berlangsung sangat cepat tanpa pandang status pendidikan, sosial bahkan ekonomi seseorang.

Penulis buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia ini berkata, saat ini pelaku terorisme bahkan sudah melibatkan posisi anak-anak dan perempuan dalam skala yang semakin besar. Berdasarkan catatan Solahudin, dari 2016 hingga 2017 setidaknya terdapat 10 orang perempuan yang ditangkap karena terlibat dalam aksi terorisme. Tiga di antaranya ditangkap karena merencanakan bom bunuh diri.

Lantas, apa yang menyebabkan orang-orang itu menjadi ekstremis dan terlibat dalam aksi-aksi teror di Indonesia?

Jawabannya, kata Solahudin, dapat dirunut sampai awal terbentuknya sistem ISIS pada 2000-an. ISIS, kata dia, memberikan berbagai macam narasi tentang kenikmatan hidup di bawah naungan khilafah dan penerapan syariat Islam, serta memposisikan negara-negara barat sebagai musuh yang membuat umat Muslim tak dapat menjalankan kewajibannya dengan tenang. Akan tetapi, narasi yang paling kuat, menurut Solahudin, adalah nubuat akhir zaman. Dalam beberapa riwayat Hadis, kata Solahudin, Suriah disebut sebagai tempat yang akan diberkati di akhir zaman. Di sana pula akan berdiri kekhilafahan terakhir disertai datangnya Imam Mahdi. Solahudin memberikan contoh Triyono Utomo, pejabat di departemen keuangan yang mencoba pergi ke Suriah. Contoh lainnya adalah siswa SMA 4 Medan yang mencoba melakukan penyanderaan dan pengeboman sebuah gereja pada 2016. Oleh sebab itu, kata Solahudin, tak mengherankan jika Dita dan keluarganya nekat melakukan bom bunuh diri di tiga gereja berbeda yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Apalagi, lanjutnya, mereka juga dikabarkan pernah berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

No Response

Leave a reply "Radikalisme Tak Pandang Ekonomi dan Gender"