Karman BM: Memasuki Tahun Politik, Kapolri Jadi Korban

BEKASI (Batamraya.com) – Sudah beberapa hari ini menjadi viral potongan video pidato Kapolri, Jenderal Tito Karnavian dalam sebuah Halaqoh Kebangsaan Nahdatul Ulama, isinya informasi bahwa Tito memerintahkan anak buahnya di seluruh Indonesia untuk pererat kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah, dan melarang kerjasama dengan ormas lainnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Eksekutif Al Mantra Institute, Karman BM berpendapat Bahwa dalam klarifikasi Kapolri baik secara langsung ke Ulama dan pimpinan Ormas Islam, maupun melalui staf-stafnya, video tersebut telah dipotong potong.

kapolri tito

“Yang peristiwanya terjadi pada awal 2017 lalu. Yang ketika itu isu politik kita adalah pro pancasila dan anti pancasila. Yang dalam kaca mata kepolisian memang ada ormas yang anti Pancasila. Siapa ormas yang anti Pancasila? Di forum tersebut Kapolri tidak sebutkan secara terbuka, namun memakai kata “lainnya”. Dan memilih menyebut NU dan Muhammadiyah sebagai contoh ormas yang pro Pancasila dan terdepan mengawal NKRI dan harus tingkatkan kerjasama dengan keduanya.” Jelasnya panjang lebar.

Menurut Karman, harusnya masyarakat lebih bersyukur karena baru pertama punya Kapolri yang sangat terbuka dan akrab dengan Ormas Islam.

“Kita bisa buktikan dengan rajinnya Kapolri dan jajarannya bersilaturrahmi ke Ormas-ormas tersebut, secara langsung atau melalui underbow ormas ormas tersebut.” Ungkapnya.

Terakhir, Karman berpesan penting kiranya untuk masyarakat sama-sama mengingat, bahwa kini sudah masuk ke tahun politik, yang segala sesuatu sangat cepat menjadi bahan gorengan dan memicu tingginya eskalasi politik.

“Untuk itu mari kita sama sama tahan diri dan tidak terprovokasi untuk melakukan hal hal yang bisa mengganggu stabilitas. Dan jangan semua isyu dipakai untuk seolah olah mau perang terus.” tutupnya.

 

 

No Response

Leave a reply "Karman BM: Memasuki Tahun Politik, Kapolri Jadi Korban"